“Untuk penulisan memang harus sesuai 5w 1h, yaitu what (apa), when (kapan), where (di mana), who (siapa), why (mengapa), dan how (bagaimana). Sebagai kuncinya adalah di lead/teras berita, dengan cara penulisan agar runut menggunakan rumus SPOK (Subyek, Predikat, Obyek, Keterangan),” jelas Hans.
“Untuk terkait berita yang menimpa kekerasan terhadap anak-anak dibawah umur itu ada khusus yang harus diperhatikan, antara lain tidak boleh menyebut nama korban (contoh, sebut saja bunga atau melati), tidak boleh menulis alamat lengkap korban (contoh, sebut saja asal kabupaten-nya), tidak boleh menulis nama sekolahnya, tidak boleh menulis nama orang tuanya. Karena ini akan berdampak luas bagi korban yang notabene anak-anak dibawah umur,” tambah Hans.
Kemudian, Laila Dwi Chasanah, menanyakan tentang apa ada skill khusus untuk jadi wartawan. Dan langsung dijawab oleh Hans.
“Untuk menjadi wartawan tidak perlu skill khusus. Yang terpenting Sumber Daya Manusia-nya (SDM-nya) harus mumpuni. Ada niat, suka membaca, suka menulis, mau belajar apapun terkait ilmu pengetahuan. Baik itu tentang hukum, sosial, ekonomi, tehnis, komunikasi, etika dan lain-lain. Termasuk apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, bisa dijadikan karya jurnalistik,” ucapnya.
Dan, Lina Marliana, menanyakan tentang bagaimana seorang wartawan bisa mendapatkan gaji atau cuan dari pekerjaannya. Hal ini langsung direspon Hans, itu mudah.
“Kalau perusahaan media nasional, wartawannya digaji perusahaan. Untuk besaran gaji wartawan itu sendiri tergantung aturan masing-masing perusahaan yang menaungi wartawan tersebut,” jelasnya.
“Untuk perusahaan media yang tidak menggaji wartawannya, dan supaya wartawannya bisa mendapatkan cuan/pendapatan adalah dengan cara bekerjasama berbentuk iklan dan beberapa kerjasama yang lainnya. Iklan ini bisa didapat dari Pemerintah maupun pihak swasta,” tandas Hans.
Sementara itu, Ketua panitia pelaksanaan PKKMB, Privita Enggar M mengatakan untuk latar belakang kegiatan ini, jurnalistik merupakan pemberian informasi kepada pembaca melalui informasi yang disajikan melalui karya tulis/jurnalistik seperti berita, reportase dan lainnya.
Jurnalistik tidak hanya relevan dalam dunia media pada umumnya, khususnya bagi mahasiswa, namun ilmu jurnalistik juga berguna dalam menghadapi isu-isu yang terjadi dalam dunia perkuliahan dengan mengolah dan menerima informasi secara akurat.
“Saya melihat dari keadaan Mahasiswa di kampus STAI Muhammadiyah yang memiliki kemampuan dalam menulis, khususnya dalam jurnalistik sangatlah sedikit, maka dengan adanya materi ini Mahasiswa bisa mendapat pengetahuan tentang pentingnya jurnalistik dalam kehidupan mahasiswa,” jelasnya.
Lanjutnya, dengan materi ini Mahasiswa diharapkan bisa memahami dasar-dasar jurnalistik dan dapat mengaplikasikannya. Untuk target materi itu sendiri adalah Mahasiswa dapat mengaplikasikan cara penulisan jurnalistik dan membuat karya tulis.
“Indikator capaian materi yaitu Mahasiswa memahami Kode Etik Jurnalistik (KEJ), memahapi cara penulisan jurnalistik dan dapat mengaplikasikan cara penulisan jurnalistik,” tandas Enggar.
Untuk diketahui, acara diakhiri dengan sesi foto bersama Mahasiswa dan Pemateri. Sekaligus penyerahan sertifikat penghargaan untuk Pemateri dari Kampus STAI Muhammadiyah Blora. (Ahis)